Tahapan Utama Dalam Pelaksanaan Manajemen Kinerja

Tahapan Utama Dalam Pelaksanaan Manajemen Kinerja

 

Sebuah organisasi atau perusahaan dapat mencapai puncak suksesnya jika didukung oleh sumber daya manusia (SDM) atau tim internal yang solid. Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor terpenting di dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Dalam mengoperasikan organisasi atau perusahaan, SDM yang memiliki perilaku dan pemikiran yang berbeda dapat mengakibatkan perbedaan dalam kinerjanya. Oleh karena itu, diperlukan suatu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta peninjauan terhadap kinerja karyawan yang disebut dengan istilah manajemen kinerja atau performance management. Manajemen kinerja merupakan suatu proses dimana seorang manajer dan karyawannya bekerja sama untuk merencanakan, memantau, dan meninjau kembali objektif atau sasaran kerja karyawannya agar dapat memberikan kontribusi secara keseluruhan untuk organisasi atau perusahaan. Dalam kata lain dapat diartikan pula sebagai sebuah proses berkelanjutan dari penetapan tujuan, penilaian terhadap kemajuan dan memberikan bimbingan serta umpan balik (feedback) untuk memastikan bahwa setiap karyawan dapat memenuhi tujuan dan sasaran karir mereka.

Sebuah organisasi atau perusahaan membutuhkan manajemen kinerja untuk mengukur apa hasil kegiatan yang telah dilakukan, bagaimana kualitasnya dengan tujuan yang telah ditetapkan, serta menentukan apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja tersebut sesuai tujuan organisasi atau perusahaan. Tahapan manajemen kinerja (performance management) menurut Williams (1998), terdapat 4 (empat) tahapan utama dalam pelaksanaan manajemen kinerja.

Tahapan ini menjadi suatu siklus manajemen kinerja yang saling berhubungan dan menyokong satu dengan yang lain :

1.  Tahap Pertama : Directing and Planning

Tahap pertama merupakan tahap identifikasi perilaku kerja dan dasar atau basis pengukuran kinerja. Kemudian, dilakukan pengarahan konkret terhadap perilaku kerja dan perencanaan terhadap target yang akan dicapai, kapan dicapai, dan bantuan yang akan dibutuhkan. Indikator-indikator target juga didefinisikan di tahap ini. Menurut Khera (1998), penentuan target (goal) akan efektif bila mengadopsi SMART. SMART merupakan singkatan dari Spesific, Measureable, Achievable, Realistic, dan Timebound (dalam Ilyas, 2006, p. 28). Sebuah target harus jelas apa yang akan dicapai dan bagaimana mencapainya (spesific), terukur keberhasilannya (measureable) dan orang lain dapat memahami atau melihat keberhasilannya. Target harus memungkinkan untuk dicapai, tidak terlalu rendah atau berlebihan (achievable), masuk akal dan sesuai kondisi atau realita (realistic), serta jelas sasaran waktunya (timebound).

2.  Tahap Kedua : Managing and Supporting

Tahap kedua merupakan penerapan monitoring pada proses organisasi. Tahap ini berfokus pada mengelola (manage), dukungan, dan pengendalian terhadap jalannya proses agar tetap berada pada jalurnya. Jalur yang dimaksudkan disini adalah kriteria maupun proses kerja
yang sesuai dengan prosedur berlaku dalam suatu organisasi.

3.  Tahap Ketiga : Review and Appraising

Tahap ketiga mencakup langkah evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan flashback atau review kinerja yang telah dilaksanakan. Setelah itu, kinerja dinilai atau diukur (appraising). Tahap ini memerlukan dokumentasia atau record data yang berkaitan dengan obyek yang dievaluasi. Evaluator harus bersifat obyektif dan netral agar didapat hasil evaluasi yang valid.

4.  Tahap Keempat : Developing and Rewarding

Tahap keempat berfokus pada pengembangan dan penghargaan. Hasil evaluasi menjadi pedoman penentu keputusan terhadap tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Keputusan dapat berupa langkah perbaikan, pemberian reward atau punishment, melanjutkan suatu kegiatan atau prosedur yang telah ada, dan penetapan anggaran.

Ada beberapa alat dan ketentuan untuk melaksanakan manajemen kinerja. Beberapa alat ini adalah Manajemen Mutu ISO, Malcolm Baldridge (MBNQA), Lean Six Sigma, Balanced Scorecard (BSC), Six Sigma, dan lain sebagainya. Tetapi alat apa pun yang digunakan, penerapan manajemen kinerja harus memenuhi persyaratan dasar berikut ini :

  • Perusahaan harus memiliki strategi yang jelas dalam upaya mewujudkan tujuannya.
  • Perusahaan memiliki indikator kinerja utama yang diukur secara kuantitatif, memiliki target yang ingin dicapai, dan jelas memiliki tenggat waktu.
  • Terdapat kontrak kinerja, dimana ukuran kinerja dinyatakan dalam bentuk perjanjian antara bawahan dan atasan.
  • Terdapat siklus manajemen kinerja yang standar dan ditaati oleh semua elemen perusahaan, yaitu dalam bentuk perencanaan kinerja, implementasi, pengawasan, dan evaluasi.
  • Terdapat ketentuan imbalan dan hukuman yang konstruktif dan konsisten di perusahaan.
  • Terdapat dedikasi kepemimpinan yang kuat di level atas (top manager) sehingga perusahaan memiliki kinerja tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan.
  • Penerapan konsep manajemen berdasarkan kompetensi, “the right man in the right place” untuk mencapai kinerja perusahaan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *